Asus Zenpower 10050 mAh

Review ASUS Zenpower

Sekitar sebulan yang lalu saya dikirimi ASUS Zenpower 10050 mAh oleh ASUS Indonesia. Setelah dicoba pergunakan selama beberapa waktu untuk keperluan charging Motorola Moto-G dan LG Leon, saya puas dengan kinerja power bank ini. Desain body-nya juga kokoh dan memberikan kesan mewah. Berikut sekilas review dari saya.

Zenpower 04

Design

ASUS Zenpower datang dengan kemasan yang compact, maklum ASUS mengklaim produk ini ukurannya sebesar kartu kredit. Setelah saya ukur, ASUS Zenpower ini memang lebar dan panjangnya mirip sebesar kartu-kartu kita yang ada di dompet, namun sedikit lebih besar sekitar 5 mm.

Zenpower 03

Selain itu yang saya sukai adalah material bahan almunium dan finishing yang digunakan untuk membalut produk ini memberikan kesan kokoh, elegan dan berkelas, jauh dari kesan murahan. Edisi warna gold yang saya dapatkan menambah lagi impresi mewah yang ditampilkan.

Untuk ergonomi, ASUS Zenpower ini nyaman dipegang sekalipun sembari sedang melakukan charging bersama handphone. Karena ada produk power bank dengan bentuk fisik batangan (hampir silindris) atau bentuk yang terlalu lebar, sehingga tidak nyaman untuk digenggam jika sedang digunakan sembari charging dengan handphone.

Zenpower 02

Kelengkapan lainnya, ASUS Zenpower ini memiliki satu tombol power, empat titik lampu indikator satu socket USB dan satu socket mini USB. Empat lampu indikator ini masing-masing merepresentasikan 25% keterisian daya.

Satu kelemahan minor dari sisi desainnya adalah lokasi socket USB dan mini USB yang berdekatan. Hal ini cenderung akan menyulitkan jika ingin melakukan charging power bank jika masih membiarkan kabel bawaan dalam posisi tercolok. Solusinya, kabel tersebut harus dilepaskan terlebih dahulu agar lebih leluasa dalam melakukan charging ASUS Zenpower ini.

Zenpower 01

Performance

Untuk pengukuran performance tidak saya uji secara mendetail dan akurat, namun kira-kira butuh sekitar 12 jam untuk mengisi ASUS Zenpower dari kondisi kosong hingga penuh. Menariknya, saya merasa ASUS Zenpower ini bisa lebih cepat melakukan charge sekitar 20-30% daripada charging dengan charger bawaan handphone.

Power bank ini akan berhenti charging saat di-charge jika dayanya sudah terisi penuh. Saat melakukan charge untuk handphone, ASUS Zenpower juga tidak terasa panas.

Fungsi tombol power-nya adalah hanya untuk mengetahui jumlah ketersediaan cadangan daya yang tersimpan dalam power bank, karena ASUS Zenpower ini otomatis menyala dan mengisi daya begitu ada handphone yang dicolokkan.

Safety

Untuk urusan safety lainnya, ASUS Zenpower punya fitur proteksi yang bikin tenang. Dikutip dari situs resminya, berikut 11 fitur safety yang dimiliki:

  • Temperature Protection
  • Short circuit Protection
  • Rest Protection
  • Input Over Voltage Protection
  • Output Over Voltage Protection
  • Input Reverse Direction Protection
  • Over Charge/ Over Discharge Protection
  • Output Over Current Protection
  • Cell PTC Protection
  • Adapter Protection
  • JEITA Protection (Temperature Protection)

So?

ASUS Zenpower 10050 mAh menjadi pilihan untuk yang membutuhkan power bank yang praktis dibawa, nyaman digenggam, desain berkelas, punya daya simpan yang besar dan berasal dari brand yang sudah punya reputasi. Ditambah lagi proteksi keamanan yang membuat kita tidak perlu khawatir meninggalkan power bank  dalam kondisi charging, atau kondisi apapun.

Untuk lebih mengetahui keunggulan ASUS Zenpower 10000 mAh ini, bisa langsung menuju website resminya disini.■

Foto utama diambil dari B & H.

Cool Alarm Clock

Tips Tidur 2-3 Jam Sehari dari Pak Budi Isman

Pak Budi Satria Isman adalah seorang profesional yang telah melanglang buana di beberapa perusahaan multinasional dan menempati posisi-posisi kunci didalamnya. Beliau berkarir di Mobil Oil, Shell Indonesia, menjadi vice president di Coca-Cola Indonesia, dan menjadi CEO di Sari Husada. Sekarang beliau menempati posisi Board of Directors di Avrist Assurance dan menjadi Presdir di perusahaannya sendiri, PT. Mikro Investindo Utama.

Yang saya coba teladani dari beliau adalah keteguhan dalam mewujudkan dream-nya. Jika kita sudah menetapkan target, maka kerahkan segala upaya untuk mencapai target itu, sekalipun harus meninggalkan zona nyaman.

Reach Your Dream

Saat muda, beliau memiliki target bahwa pada usia 45 tahun harus sudah menjadi orang nomer satu di suatu perusahaan multinasional. Perjalanan karirnya di Coca Cola Indonesia akhirnya membawanya menempati posisi Vice President pada tahun 2003, posisi sebagai orang nomer dua di perusahaan tersebut. Saat itu ia sudah berumur 41 tahun. Tahun 2005 beliau akhirnya memutuskan hengkang karena merasa terlalu lama jika harus menunggu jadi orang nomer satu di perusahaan ini, yang ia perkirakan 5 hingga 6 tahun lagi, yang artinya sudah melewati target umurnya.

Ia kemudian menjadi CEO di Sari Husada, perusahaan yang sudah go public dan sebagian besar sahamnya dimiliki oleh perusahaan dari Belanda. Di umur 43 tahun, beliau sudah berhasil mencapai targetnya. Dengan berani, beliau meninggalkan segala kenyamanan yang ia dapatkan dari grup Coca-Cola untuk pindah ke Sari Husada. Keputusan yang mengherankan bagi banyak orang, termasuk keluarganya. Namun beliau berhasil menjelaskan prinsip hidupnya kepada keluarganya dan memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Beliau memimpin di Sari Husada hingga 2009 dan berhasil membawa perubahan-perubahan yang berani, salah satunya adalah membeli kembali saham-saham minoritas hingga senilai 1 triliun rupiah dengan tujuan agar kebijakan perusahaan bisa diambil dengan cepat dan tidak terganggu dengan sentimen publik. Di awal kepemimpinannya, Sari Husada memberi target bahwa pertumbuhan profit harus mencapai double digit dalam lima tahun, dan beliau berhasil mencapai target tersebut kurang dari lima tahun.

Drop Out Empat Kali

Dibalik pencapaiannya tersebut, ternyata beliau punya cerita latar belakang pendidikan yang menggelitik. Saat remaja, beliau tergolong orang yang cukup berbakat, sehingga pada usia 16 tahun sudah bisa mengenyam bangku kuliah. Namun semua kampus yang ia masuki tidak berakhir manis. Beliau drop out empat kali, dikeluarkan dari perkuliahan di beberapa perguruan tinggi di Indonesia mulai dari Institut Teknologi Bandung, Universitas Andalas, Akademi Bahasa, hingga Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Menurut cerita beliau penyebab drop out-nya adalah karena merasa bosan dengan sistem pendidikan kuliah, sehingga ia memiliki attitude yang dianggap meremehkan institusi pendidikan yang ia masuki. Ini yang membuat para dosen memberi nilai jelek dan tidak meluluskan beliau, walaupun mungkin sebenarnya beliau menguasai mata kuliah yang diajarkan sang dosen.

Akhirnya ia memilih melanjutkan berkuliah di negeri Paman Sam. Disini ia termotivasi untuk mengejar ketertinggalannya. Disini ia mulai mengembangkan  disiplin, kerja keras dan kebiasaan untuk tidur hanya 2 hingga 3 jam sehari. Walhasil, gelar Bachelor of Science in Business Administration dari The American University dan Master of Arts dari The George Washington University berhasil disabet dalam kurun waktu tiga tahun (1985-1988).

Beliau sadar bahwa jika berkuliah dan bekerja dengan ritme yang biasa-biasa saja maka ia jelas sudah kalah start dengan mereka yang menjalani perkuliahan dengan ‘normal’. Oleh karenanya perlu ada pengorbanan khusus untuk bisa mengejar ketertinggalan ini, beliau memilih bekerja keras dan mengurangi jam tidurnya. Kebiasaan ini ia bawa terus saat berkarir dan kembali ke Indonesia. Tidak heran jika akhirnya beliau bisa mencapai targetnya menjadi orang nomor satu di perusahaan multinasional pada usia 43 tahun.

Tips Budi Isman Tidur 2-3 Jam Sehari

Saya berkesempatan bertemu Pak Budi Isman dua kali. Pertama saat di GEPI Ciputra dan kedua saat beliau mengisi talkshow di Universitas Trilogi. Saya kemudian bertanya tentang tips beliau bisa mengurangi waktu tidur namun tetap energik di siang hari. Ini jawaban dari beliau:

Kalau soal tidur itu masalah habit bagi saya, walaupun banyak dokter dan teman-teman tidak sependapat karena bagi mereka tidur harus 6-8 jam sehari. Nyatanya orang Jepang juga tidurnya tidak normal, mungkin sekitar 3-5 jam perhari dan nyatanya mereka bisa sangat produktif.

Memang kalau tidak biasa akan sulit. Saya sudah membangun kebiasaan ini dari tahun 1985 dan sampai sekarang masih bisa bertahan dan cukup produktif. Saya tidak konsumsi makanan atau minuman khusus ataupun vitamin. Olah raga saya juga jarang, dulu masih main golf namun dua tahun belakangan ini malah ngga main sama sekali.

Mungkin cara yang terbaik adalah menyesuaikan dengan kodisi badan kita dan mulai pelan-pelan bangun kebiasaan yang ingin kita miliki.

  • Perlahan mulai kurangi tidurnya. Bulan pertama misalnya dikurangi 1 jam, bulan kedua 2 jam dan bulan ke-empat kurangi 3 jamdan seterusnya.
  • Pakai alarm clock yang bunyinya keras untuk tahun pertama dan bangun tepat di jam yang sama setiap hari sampai menjadi kebiasaan
  • Saya makan tidak pernah banyak karena akan bikin ngantuk, namun frekuensi makan saya bisa 5 kali sehari. Light breakfast saat pagi, ngemil saat jam 10.00, lunch saat jam 12.00, ngemil saat jam 4.00 sore, makan malam saat jam 7.00 malam dan late supper sekitar jam 11.00 malam.
  • Saya tidur jam 02.00 dini hari dan bangun paling lambat jam 04.30 pagi
  • Malam di rumah dengan keluarga dan urusan keluarga sampai jam 11.00 malam. Jika keluarga dan istri sudah tidur maka saya kerja lagi atau baca buku untuk tambah ilmu dan pengetahuan.
  • Jika memungkinkan, cari waktu untuk olahraga ringan yang rutin.
  • Time management sangat penting. Saya sangat ketat soal scheduling waktu, pekerjaan, meeting, dan segala macam kerja
  • Biasanya saya pakai Outlook untuk calendar dan scheduling yang saya link-kan dengan Google calendar maupun HP saya

Itu pengalaman saya yang bisa saya share. Terimakasih.

» Photo Credits: Beech Brick Click Clock

Poster Bully

Tentang Poster Festival Industri Kreatif Depok

Setidaknya ada dua media yang meminta komentar saya tentang poster Festival Industri Kreatif Depok 2015 yang jadi bahan ledekan di social media. Berikut respon dan koreksi saya terhadap poster tersebut:

Poster festival Industri Kreatif Depok 2015

Apa yang salah dari poster tersebut?

Pertama, terlalu banyak elemen visual yang tidak mendukung satu sama lain. Ada foto walikota dan wakil walikota, ada belimbing (2 bentuk, yang sudah diiris dan yang utuh), ada motif batik, ada beberapa font yang digunakan, plus ditambah ramai lagi dengan banyak warna yang muncul. Terlalu banyak elemen yang tidak memiliki kesatuan akan menimbulkan kesemerawutan (cluttered) atau kegaduhan visual.

Kedua, hal yang fatal adalah pemilihan foto walikota dan wakil walikota sebagai elemen visual utama (focal point). Apa relevansinya festival industri kreatif dengan foto walikota & wawalkot?

Ketiga, penekanan yang membingungkan. Tiga huruf i yang disejajarkan dan diberi warna berbeda pada tulisan Festival Industri Kreatif ditambah lagi dibawahnya ada foto Pak Nurmahmudi, ini membuat pembaca poster bertanya-tanya apa maksud dari penekanan huruf i ini? Apakah ingin memberi rima untuk Nurmahmudi?

Keempat, logo-logo di bagian bawah ditempatkan berantakan dan memakan terlalu memakan banyak ruang.

 

Bagaimana memperbaikinya?

Pertama, ganti foto walikota dan wawalkot dengan bentuk visual lain yang lebih relevan. Cari visual yang relevan dengan industri kreatif, namun juga bisa menarik perhatian target audience acara tersebut.

Kedua, kurangi kesemerawutan visual. Persedikit font dan tone warna yang ingin digunakan. Jadikan elemen-elemen visual itu mendukung satu tema besar yang ingin disampaikan.

Ketiga, rancang copy tulisan yang jelas dan bisa menjawab “Kenapa saya perlu hadir ke acara ini?”

Keempat, Logo-logo posisinya di rapihkan, diperkecil dan tidak perlu memakan hingga seperempat space poster.

 
Pelajaran apa yang bisa diambil?

Sejak dicuitkan oleh Wahyu Aditya di twitter, poster ini mendapat banyak respon sentimen negatif. Beberapa yang merespon juga para tokoh-tokoh yang berkiprah di industri kreatif, misalnya: Iman Brotoseno, Pinot, Fico, dan Erwin Ananda. Ditambah lagi diangkat jadi berita juga oleh Depoklik.

Dari fenomena ini bisa kita lihat bahwa orang makin peduli dengan good design. Mereka melihat desain komunikasi yang buruk seperti polusi, harus dihindari.

Hal yang penting tentang ini adalah agar dinas terkait bisa mengambil pelajaran penting bahwa jangan mengerjakan projek dengan prinsip Asal Bapak Senang, melainkan harus berorientasi kepada target audience yang ingin dituju.

Satu lagi biar tambah kece, libatkan dan lakukan audiensi dengan komunitas terkait dahulu sebelum meluncurkan sebuah acara untuk publik, mereka biasanya punya pendapat dan insight yang bermanfaat.

Haul Code Margonda

Code Margonda: Panjang Umur Serta Mulia!

Kalau anda seorang entrepreneur dan punya uang 150 juta rupiah, mana yang anda pilih: menjadikan uang tersebut sebagai modal atau memulai sebuah coworking space di Depok yang belum mengenal istilah tersebut, belum jelas siapa yang akan jadi penggunanya dan belum jelas cara monetizingnya? Tommy, Shandy & Didi Diarsa memilih pilihan yang kedua. Mereka membangun coworking space pertama di Depok bernama Code Margonda, yang maksud namanya adalah menjadi tempat kolaborasi warga Depok yang bertempat di jalan Margonda.

Code Margonda ini bertempat di atas gerai Venneta System, dimana lantai 2 disediakan ruang untuk meeting dan lantai 3 area untuk coworking space. Dari lorong masuk, lantai 2 hingga lantai tiga semuanya dibalur dengan ragam ilustrasi unik buatan Didi Purwa. Yang saking uniknya hingga ada 2 kali kegiatan foto prewedding dilakukan di Code Margonda dengan latar belakang ilustrasi-ilustrasi tersebut.

Setelah satu tahun berjalan, Code Margonda sudah dikunjungi lebih dari 11.000 orang, 170 komunitas, digunakan oleh lebih dari 200 creativeworkers dan telah diadakan lebih dari 460 meetup. Belasan event skala lokal kota yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah, akademik, bisnis dan komunitas, juga diinisiasi dan dirancang disini beberapa diantaranya ada Depok ICT Award dan Festival Setu. Bahkan DepokMobi pernah menyelenggarakan acara disini yang merupakan bagian dari Global Game Jam Hackaton.

Walaupun begitu pengguna Code Margonda bukan hanya yang fasih teknologi seperti komunitas Online Marketers Depok, tapi juga ibu-ibu komunitas ASI For Baby Depok yang mana tercatat sebagai komunitas yang paling rutin menyelengarakan acara di Code Margonda.

FYI, salah satu aktivis Code Margonda, Fauzan Helmi bersama timnya berhasil menyabet Grand Prize Winner di ajang “Code for Resilience” yang diselenggarakan di London, Inggris. FYI lagi, kesuksesan kampanye #HatiUntukAmmar yang mampu menggerakkan pengumpulan donasi dari 90 juta hingga ke 700 juta dalam waktu kurang dari satu bulan juga tak lepas dari peranan teman-teman penggiat online marketing yang sering begadang di Code Margonda.

Pencapaian dan angka-angka yang ditorehkan dalam waktu satu tahun tersebut membuktikan bahwa kota Depok ternyata punya masalah akut dalam menyediakan ruang publik yang akomodatif untuk berbagi serta melakukan hal produktif secara kolektif, dan Code Margonda terbukti bisa menjadi solusi bagi masalah tersebut.

Dulu saat kami memulai Depok Creative dan Depok Digital, kami punya hipotesis bahwa Depok ini punya banyak individu-individu kreatif dengan talenta berstandar industri dan kampus-kampus di Depok memiliki belasan ribu mahasiswa setiap tahunnya, artinya ini adalah suatu potensi arus input SDM yang penting. Jika ada suatu tempat yang memungkinkan terjadinya transfer knowledge dan bisa memproses input ini maka hasilnya akan luar biasa.

Code Margonda dengan segala aktivitas yang terjadi di dalamnya mampu membuktikan hipotesis tersebut. Bahan input yang bagus dimasak di tungku proses dengan penuh passion maka outputnya juga akan ciamik.

Code Margonda adalah bukti bahwa kolaborasi itu penting. Code Margonda adalah simbol semangat urban civic movement. Dan seharusnya kita masih bisa melihat Code Margonda panjang umur serta mulia hingga #10tahunlagi.

Keep on rockin!

 

*Bagi yang mau membantu panjang umur-nya Code Margonda mari mampir kesini.

Its My Startup by Lahandi Baskoro

It’s My Startup Akhirnya Terbit!

Akhirnya buku It’s My Startup ini terbit.

Buku ini berisi 50 tips memasuki, memulai dan mengembangkan startup. Dibagian akhir juga terdapat daftar istilah yang bisa membantu para newbie untuk mengenal istilah yang sering digunakan di dunia startup.

Indonesia sekarang tergolong sebagai negara yang berkembang pesat dalam adopsi teknologi informasi. Koneksi internet yang kian lancar, pengguna smartphone yang kian bertumbuh, ekosistem startup yang kian lengkap mendorong munculnya kelahiran banyak startup di Indonesia.

Sama seperti bisnis lainnya, bahwa bisnis startup pun banyak yang tutup buku di tahun pertama. Sangat disayangkan jika waktu, tenaga, pikiran dan uang yang digunakan untuk membangun startup terbuang karena founder startup tidak mengetahui tentang tantangan yang akan dihadapi di dunia startup. Buku ini mencoba menjadi jembatan terhadap knowledge gap bagi para startup founders untuk membangun startup yang sustainable.

Tips-tips di buku ini adalah rangkuman dari pengalaman saya ngobrol-ngobrol dengan para startup founders, membaca tech blog, menghadiri tech meetup, berkuliah tentang creative entrepreneurship dan bekerja di salah satu startup terbaik Indonesia, Kaskus. Gaya penyampaiannya disusun mengalir dan dilengkapi case studies dari keberhasilan (dan kegagalan) startup luar dan dalam negeri.

Terimakasih istimewa saya buat Casofa Fachmy yang menginisiasi ide untuk menulis buku, mengejar-ngejar naskah serta menjadi editor buku ini. Terimakasih juga buat Wendy Arief yang telah merangkai visualisasi dan menata letak isi jadi ciamik.

Untuk yang tertarik membaca It’s My Startup, bukunya sekarang sudah beredar di toko-toko buku. Let me know what you think about the book!

Harga Teman

Hitungan Dibalik Harga Teman

Para insan yang bergerak dalam jasa kreatif client based, sering berhadapan dengan teman atau kenalan yang menawarkan pengerjaan desain ataupun development namun dengan meminta ‘harga teman’. Saat sedang mempertimbangkan harga teman ini kita jadi dilema. Kalau projeknya diambil rasanya imbalannya kurang greget, kalo nolak rasanya enggak enak. Para freelancer dan pemilik bisnis kreatif kecil sering berada dalam situasi kegalauan kreatif seperti ini.

Sebenernya perkara harga teman ini bisa dikira-kira, selama kita tau komponen biayanya. Dua hal yang paling mempengaruhi penghitungan harga teman adalah Customer Acquisition Cost dan Customer Retention Cost.

Customer Acquisition Cost

Customer Acquisition Cost adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan satu kustomer atau klien. Dulu, saat saya masih bergelut di bidang jasa desain dan copywriting, untuk membuat suatu klien baru memutuskan deal mau memakai jasa saya, dibutuhkan 1-2 kali pertemuan darat untuk meyakinkan mereka. Satu hingga dua kali pertemuan itu tentu ada hitungan ongkos transportnya, workhour yang terpakai untuk membuat presentasi konsep, printing initial mock up, dsb. Belum lagi kalo ngobrolnya di kafe, bill traktiran saat PDKT ke calon klien ya tentu dimasukkan juga sebagai cost ini.

Nah, kalo teman kita tau-tau dateng nawarin projek, tentu biaya Customer Acquisition Cost ini jadi ga ada dong. Karena dia datang tidak diundang pulang tidak diantar.

Customer Retention Cost

Customer Retention Cost adalah biaya yang dikeluarkan agar satu kustomer atau klien tetap loyal menggunakan jasa atau produk kita. Emang penting ya Customer Retention Cost? Jangan salah, dikutip dari Forbes 5% biaya yang dikeluarkan untuk Customer Retention itu bisa mendatangkan tambahan 75% profit. 80% pendapatan suatu bisnis biasanya berasal dari 20% existing customer. Jadi kalo kita serius mengembangkan bisnis, Customer Retention Cost ini jadi hal yang penting.

Kayak apa bentuk Customer Retention Cost ini? Dwi Sapta setiap bulan sekali selalu mengajak account director atau account manager suatu brand untuk makan siang bareng. Mau ada projek atau ga ada projek, mereka yang pernah jadi kliennya rutin di-treatment seperti ini. Kalo bisnisnya masih kecil ya yang paling gampang setahun sekali kasih kiriman kartu lebaran, syukur-syukur bisa sekalian sama parselnya :D

Nah, kalo teman kita yang jadi klien, biaya relation maintenance ini bisa lebih ditekan. Karena di treatment ataupun tidak di treatment, kita tetap jadi top of mind dia (dengan catatan selama kualitas kerja yang kita berikan juga excellent ya, plus kita aktif nge tag doi di facebook :))).

Jadi Perlu Ga Kasih Harga Teman?

Enggak, kalo kita tidak memasukkan dua komponen biaya tersebut sebagai strategi pengembangan bisnis. Misalnya, kita hanya mempromosikan karya kita lewat facebook dan deviant art. Kita tidak pernah melakukan PDKT di darat terhadap calon klien, tidak pernah (dan tidak berencana) memberikan suatu treatment kepada klien-klien yang sudah pernah menggunakan jasa kita. Dengan ini maka permintan harga temen jadi kurang pas, lha wong klien-klien yang lain juga diperlakukan sama kok.

Enggak, kalo kita merencanakan memberikan treatment kepada sang teman menggunakan dua komponen biaya tersebut sama seperti klien-klien lainnya. Intinya mengutamakan pelayanan yang top markotop tidak memandang klien biasa taupun teman.

Kasih, kalo bisnis yang kita jalankan memang menggunakan dua komponen biaya tadi untuk klien normal dan menghapus dua biaya tersebut untuk sang teman. Dengan catatan sang teman memang tidak masalah diperlakukan tanpa treatment khusus seperti klien normal.

Itu gambaran tentang penghitungan harga teman. Mudah-mudahan jadi makin mantep menentukan penawaran untuk projek teman dan klien biasa. Jadi nanti jika lain kali ada teman yang meminta harga teman, harga saudara atau harga ikhwah, tau kan hitungannya? ;)

Candi Prambanan

Permodalan Industri Kreatif Yang Tidak Kreatif

Industri kreatif kian mengambil porsi yang signifikan dalam sektor perekonomian Indonesia. Tahun 2010, nilai ekspor industri kreatif telah mencapai 114,9 triliyun rupiah.  Bahkan pemerintah menargetkan agar sektor industri kreatif ini pada tahun 2011 hingga 2015 bisa menyentuh 8% dari nilai PDB (Produk Domestik Bruto).

Sayangnya, target dan pencapaian ini belum didukung oleh sektor perbankan, tempat dimana para pemilik bisnis kreatif bisa mendapatkan modal dana segar. Belum keluarnya peraturan perbankan terkait industri kreatif menjadi kendala utama. Akibatnya bank menggunakan pendekatan konvensional, dimana pemilik bisnis harus menggunakan jaminan aset fisik untuk bisa mendapatkan pinjaman.

Padahal, di industri kreatif, aset utamanya adalah ide. Laskar Pelangi adalah sebuah contoh produk dari industri kreatif subsektor penerbitan & percetakan. Setelah sukses dengan novelnya, Laskar Pelangi menjadi film, drama musikal dan yang terkahir serial televisi. Uang triyunan rupiah yang dihasilkan dari semua produk tersebut sumbernya satu: ide cerita Laskar Pelangi yang lahir dari pemikiran Andrea Hirata. Kreativitas adalah aset inti dari sebuah bisnis kreatif. Ini yang membuat industri kreatif perlu dibedakan model pembiayaannya dengan industri lain.

Terganjalnya permodalan oleh perbankan bisa membuat laju pertumbuhan industri kreatif tidak optimal. Banyak pemilik bisnis kreatif yang jadinya hanya mengerjakan pesanan karena model bisnis seperti ini bisa memberikan modal di depan, dan dalam beberapa kasus nama pembuatnya tidak disebutkan. Padahal mereka amat berpotensi untuk memiliki produk yang dibangun dengan ide mereka sendiri. Menjadi kreator berarti ia bisa memasukkan nilai-nilai budaya lokal untuk produknya ketimbang harus mengerjakan produk-produk pesanan negara luar. Menjadi kreator artinya memiliki posisi tawar yang lebih tinggi untuk produk kreatif yang ia hasilkan.

Di negara-negara lain, industri kreatif sudah mulai di dukung pembiayaan permodalannya oleh negara. Di Kanada, the Arts Board and the Ministry of Tourism, Parks, Culture and Sport menggulirkan dana pinjaman 1,15 milyar dollar Canada untuk industri kreatifnya. Terpampang jelas juga paduannya dan cara prosedur peminjamannya, semuanya dalam format PDF yang bisa diunduh, mudah dipahami dan siap print. Jerman juga sudah mendukung sektor industri kreatifnya melalui perbankan. Bahkan  Negara tetangga Malaysia juga sudah duluan dalam mendukung industri kreatifnya lewat sektor perbankan.

Ada wacana, sistem pembiayaan bank syariah bisa menjadi alternatif bagi industri ini. Akad transaksi jual beli bisa jadi solusi bagi bisnis kreatif yang butuh modal untuk pengadaan alat produksi. Jika pada bank konvensional yang jadi objek adalah uangnya, maka pada bank syariah yang jadi objek adalah barangnya. Jadi bank syariah membeli barang yang dibutuhkan, lalu menjualnya kepada pemilik bisnis, dan sang pemilik bisnis akan mencicil kepada bank syariah sesuai besaran yang disepakati di awal.

Solusi yang kedua lewat venture capital atau angel investor. Gencarnya penetrasi broadband, tingginya pengguna mobile phone, dan munculnya startup-startup teknologi di Indonesia membuat negeri ini jadi perhatian venture capital asing. Tahun 2011 kemarin, banyak venture capital baik lokal maupun asing yang sudah mulai bergerak di Indonesia. Hanya saja para venture capital ini cenderung fokus berinvestasi pada bisnis yang berbasis teknologi informasi. Padahal  industri kreatif memiliki 12 subsektor lain diluar sektor berbasis teknologi informasi.

Solusi yang ketiga, crowdfunding. Crowdfunding adalah suatu bentuk pengumpulan dana secara kolektif yang bertujuan untuk mendukung suatu usaha atau kegiatan tertentu. Crowdfunding ini dipandang sebagai solusi yang paling memungkinkan untuk mewujudkan projek-projek kreatif. Bahkan ada situs crowdfunding yang mengumpulkan dana khusus untuk mendukung projek film, musik, buku dan game. Ada beberapa startup crowdfunding online Indonesia yang dikabarkan akan muncul tahun ini.

Bangsa Indonesia secara historis memang sudah kreatif. Leluhur kita sudah membangun candi-candi yang luar biasa megah dan indah di abad ke-8. Setiap suku di Indonesia memiliki kebudayaan pola kain dan bentuk baju tersendiri. Setiap daerah memiliki lagu dan alat musiknya sendiri. Belum lagi cerita-cerita rakyat yang melegenda dan telah dijadikan buku, film serta pementasan drama. Bukankah semua itu termasuk rekam jejak kreativitas manusia-manusia bangsa ini dalam subsektor arsitektur, fashion, musik dan creative writing?

Sudah seharusnya Indonesia bisa menjadikan industri kreatif sebagai salah satu sektor signifikan penggerak ekonominya. Namun itu juga butuh dukungan dalam kemudahan modal. Pemerintah harus secepatnya menyelesaikan peraturan perbankan konvensional terkait industri ini. Perbankan syariah juga sebaiknya mulai membuat paket produk pembiayaan yang related dengan bisnis kreatif. Juga diharapkan munculnya venture capital yang mau fokus untuk berinvestasi pada usaha berbasis kreativitas. Dan startup crowdfunding yang nanti muncul juga diharapkan bisa jadi katalis projek-projek kreatif. Dengan terobosan tersebut, maka para pemilik kreativitas bisa punya produk kreasi sendiri, mandiri dan tidak lagi tergantung pesanan negara lain.

Image credit: Gunawan SM

Steve Jobs & Motivasi Mengingat Mati

When I was 17, I read a quote that went something like: “If you live each day as if it was your last, someday you’ll most certainly be right.” It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: “If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?”
— Steve Jobs

Being the richest man in the cemetery doesn’t matter to me … Going to bed at night saying we’ve done something wonderful… that’s what matters to me.
— Steve Jobs

…yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life’s change agent. It clears out the old to make way for the new
— Steve Jobs

Steve Jobs, pria yang merevolusi industri komputer, musik & telepon, begitu menekankan pentingnya arti kematian. Steve Jobs adalah contoh nyata bagaimana ‘mengingat mati’ bisa diubah menjadi energi untuk melakukan hal-hal yang revolusioner.

Orang yang paling banyak ingat mati, paling baik dalam persiapan menyambut kematian. Merekalah orang-orang yang beruntung, dimana mereka pergi (meninggal) dengan membawa kemuliaan di dunia dan akhirat.
— HR Ibnu Majah

Cukuplah kematian itu sebagai penasehat
— HR Thabrani & Baihaqi

Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian)
— HR Thabrani

Perbanyaklah mengingat kematian, sebab ia mampu membersihkan dosa-dosa, dan menjauhkan diri dari kesenangan duniawi.
— HR Ibnu Abid Dunya

Bagi seorang muslim, Nabi Muhammad sejak 1400 tahun yang lalu telah mengingatkan kita akan pentingnya mengingat mati. Oleh karenanya seorang muslim juga harus termotivasi untuk melakukan hal-hal yang membawa manfaat untuk orang banyak.

Credit: Ilustrasi Steve Jobs dibuat oleh Ryann Zha

Hat_Coin

Menanti Kemunculan Crowdfunding Indonesia

Crowdfunding adalah suatu bentuk pengumpulan dana secara kolektif yang bertujuan untuk mendukung suatu usaha atau kegiatan tertentu. Di Indonesia, salah satu bentuk crowdfunding yang terkenal adalah Koin Keadilan untuk Prita. Gerakan ini berhasil mengumpulkan 815 juta rupiah dari berbagai penjuru nusantara sebagai dukungan terhadap Prita Mulyasari melawan RS Omni.

Ada beberapa model crowdfunding. Ada yang sistemnya pinjaman, seperti Kiva dan Prosper. Ada juga yang modelnya memberi dan akan mendapatkan sesuatu dari empunya projek, seperti Kickstarter, IndieGogo dan Rockethub. Dan ada juga yang hanya memberi tak harap kembali, seperti GoFundMe.

Hasilnya? Kiva hingga saat ini telah menyalurkan lebih dari 275 juta USD kepada 700 ribu wirausahawan di 60 negara di dunia. Kickstarter berhasil membantu membuat cottage untuk ruang kerja seniman di suatu pulau yang sebelumnya tidak berpenghuni. Dan masih banyak lagi segudang cerita sukses crowdfunding ini termasuk untuk bidang riset dan edukasi.

Crowdfunding ini memotong jalur, jadi tidak ada proses berbelit lewat bank ataupun investor. Uang datang dari para pemilik dana untuk disalurkan kepada yang membutuhkan dana. Boleh jadi, ide-ide bagus para peminta dana ini tidak akan terwujud jika harus melewati bank yang menginginkan jaminan. Ataupun investor, yang umumnya menginginkan riset market yang komperhensif.

Kuatnya semangat startup crowdfunding ini juga menular ke Indonesia. Di Depok sendiri setidaknya ada dua calon startup dengan model crowdfunding.

Pertama Plum, yang mempunyai visi besar untuk menciptakan mobilitas vertikal lewat microfinance. Mereka mencoba mendorong kumpulan individu untuk menjadi pemilik saham dari suatu usaha yang akan dijalankan oleh peminjamnya. Startup yang dimotori oleh Fahry Yanuar Rahman ini direncanakan akan meluncur Februari 2012. Menurut Fahry, ada 30 orang lebih yang terlibat dalam persiapan projek ini, kerja kolaboratif antara mahasiswa dan jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dengan Teknik Grafika & Penerbitan Politeknik Negeri Jakarta.

Untuk yang kedua ini muncul dari salah satu anggota StartUpKampusLuqman Syauqi. Nama sementara dari projek ini adalah Indonesia Berdaya. Visinya mengupayakan agar Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang potensial bisa mendapat modal dari para investor yang tertarik dengan usaha mereka.

Ada bocoran juga dari mas Rhein Mahatma yang bilang kalau enam bulan lagi akan muncul dua startup crowdfunding di Indonesia.

Ada baiknya jika situs-situs crowdfunding ini mulai meng-adjust positioningnya sedari awal. Misalnya ada yang memang di set untuk mendanai projek-projek seni, budaya & lingkungan hidup, ada yang fokus untuk injeksi modal UMKM, ada yang memang untuk mendorong gerakan sosial, pendidikan dan kemanusiaan. Dengan pengaturan positioning seperti ini akan lebih memudahkan para pemilik dana untuk mengalirkan uangnya sesuai bidang perminatan mereka.

Startup crowdfunding merupakan hal yang relatif baru di Indonesia. Menarik untuk disimak bagaimana kemunculan dari para startup ini mewarnai tahun 2012.