Poster Bully

Tentang Poster Festival Industri Kreatif Depok

Setidaknya ada dua media yang meminta komentar saya tentang poster Festival Industri Kreatif Depok 2015 yang jadi bahan ledekan di social media. Berikut respon dan koreksi saya terhadap poster tersebut:

Poster festival Industri Kreatif Depok 2015

Apa yang salah dari poster tersebut?

Pertama, terlalu banyak elemen visual yang tidak mendukung satu sama lain. Ada foto walikota dan wakil walikota, ada belimbing (2 bentuk, yang sudah diiris dan yang utuh), ada motif batik, ada beberapa font yang digunakan, plus ditambah ramai lagi dengan banyak warna yang muncul. Terlalu banyak elemen yang tidak memiliki kesatuan akan menimbulkan kesemerawutan (cluttered) atau kegaduhan visual.

Kedua, hal yang fatal adalah pemilihan foto walikota dan wakil walikota sebagai elemen visual utama (focal point). Apa relevansinya festival industri kreatif dengan foto walikota & wawalkot?

Ketiga, penekanan yang membingungkan. Tiga huruf i yang disejajarkan dan diberi warna berbeda pada tulisan Festival Industri Kreatif ditambah lagi dibawahnya ada foto Pak Nurmahmudi, ini membuat pembaca poster bertanya-tanya apa maksud dari penekanan huruf i ini? Apakah ingin memberi rima untuk Nurmahmudi?

Keempat, logo-logo di bagian bawah ditempatkan berantakan dan memakan terlalu memakan banyak ruang.

 

Bagaimana memperbaikinya?

Pertama, ganti foto walikota dan wawalkot dengan bentuk visual lain yang lebih relevan. Cari visual yang relevan dengan industri kreatif, namun juga bisa menarik perhatian target audience acara tersebut.

Kedua, kurangi kesemerawutan visual. Persedikit font dan tone warna yang ingin digunakan. Jadikan elemen-elemen visual itu mendukung satu tema besar yang ingin disampaikan.

Ketiga, rancang copy tulisan yang jelas dan bisa menjawab “Kenapa saya perlu hadir ke acara ini?”

Keempat, Logo-logo posisinya di rapihkan, diperkecil dan tidak perlu memakan hingga seperempat space poster.

 
Pelajaran apa yang bisa diambil?

Sejak dicuitkan oleh Wahyu Aditya di twitter, poster ini mendapat banyak respon sentimen negatif. Beberapa yang merespon juga para tokoh-tokoh yang berkiprah di industri kreatif, misalnya: Iman Brotoseno, Pinot, Fico, dan Erwin Ananda. Ditambah lagi diangkat jadi berita juga oleh Depoklik.

Dari fenomena ini bisa kita lihat bahwa orang makin peduli dengan good design. Mereka melihat desain komunikasi yang buruk seperti polusi, harus dihindari.

Hal yang penting tentang ini adalah agar dinas terkait bisa mengambil pelajaran penting bahwa jangan mengerjakan projek dengan prinsip Asal Bapak Senang, melainkan harus berorientasi kepada target audience yang ingin dituju.

Satu lagi biar tambah kece, libatkan dan lakukan audiensi dengan komunitas terkait dahulu sebelum meluncurkan sebuah acara untuk publik, mereka biasanya punya pendapat dan insight yang bermanfaat.

Haul Code Margonda

Code Margonda: Panjang Umur Serta Mulia!

Kalau anda seorang entrepreneur dan punya uang 150 juta rupiah, mana yang anda pilih: menjadikan uang tersebut sebagai modal atau memulai sebuah coworking space di Depok yang belum mengenal istilah tersebut, belum jelas siapa yang akan jadi penggunanya dan belum jelas cara monetizingnya? Tommy, Shandy & Didi Diarsa memilih pilihan yang kedua. Mereka membangun coworking space pertama di Depok bernama Code Margonda, yang maksud namanya adalah menjadi tempat kolaborasi warga Depok yang bertempat di jalan Margonda.

Code Margonda ini bertempat di atas gerai Venneta System, dimana lantai 2 disediakan ruang untuk meeting dan lantai 3 area untuk coworking space. Dari lorong masuk, lantai 2 hingga lantai tiga semuanya dibalur dengan ragam ilustrasi unik buatan Didi Purwa. Yang saking uniknya hingga ada 2 kali kegiatan foto prewedding dilakukan di Code Margonda dengan latar belakang ilustrasi-ilustrasi tersebut.

Setelah satu tahun berjalan, Code Margonda sudah dikunjungi lebih dari 11.000 orang, 170 komunitas, digunakan oleh lebih dari 200 creativeworkers dan telah diadakan lebih dari 460 meetup. Belasan event skala lokal kota yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah, akademik, bisnis dan komunitas, juga diinisiasi dan dirancang disini beberapa diantaranya ada Depok ICT Award dan Festival Setu. Bahkan DepokMobi pernah menyelenggarakan acara disini yang merupakan bagian dari Global Game Jam Hackaton.

Walaupun begitu pengguna Code Margonda bukan hanya yang fasih teknologi seperti komunitas Online Marketers Depok, tapi juga ibu-ibu komunitas ASI For Baby Depok yang mana tercatat sebagai komunitas yang paling rutin menyelengarakan acara di Code Margonda.

FYI, salah satu aktivis Code Margonda, Fauzan Helmi bersama timnya berhasil menyabet Grand Prize Winner di ajang “Code for Resilience” yang diselenggarakan di London, Inggris. FYI lagi, kesuksesan kampanye #HatiUntukAmmar yang mampu menggerakkan pengumpulan donasi dari 90 juta hingga ke 700 juta dalam waktu kurang dari satu bulan juga tak lepas dari peranan teman-teman penggiat online marketing yang sering begadang di Code Margonda.

Pencapaian dan angka-angka yang ditorehkan dalam waktu satu tahun tersebut membuktikan bahwa kota Depok ternyata punya masalah akut dalam menyediakan ruang publik yang akomodatif untuk berbagi serta melakukan hal produktif secara kolektif, dan Code Margonda terbukti bisa menjadi solusi bagi masalah tersebut.

Dulu saat kami memulai Depok Creative dan Depok Digital, kami punya hipotesis bahwa Depok ini punya banyak individu-individu kreatif dengan talenta berstandar industri dan kampus-kampus di Depok memiliki belasan ribu mahasiswa setiap tahunnya, artinya ini adalah suatu potensi arus input SDM yang penting. Jika ada suatu tempat yang memungkinkan terjadinya transfer knowledge dan bisa memproses input ini maka hasilnya akan luar biasa.

Code Margonda dengan segala aktivitas yang terjadi di dalamnya mampu membuktikan hipotesis tersebut. Bahan input yang bagus dimasak di tungku proses dengan penuh passion maka outputnya juga akan ciamik.

Code Margonda adalah bukti bahwa kolaborasi itu penting. Code Margonda adalah simbol semangat urban civic movement. Dan seharusnya kita masih bisa melihat Code Margonda panjang umur serta mulia hingga #10tahunlagi.

Keep on rockin!

 

*Bagi yang mau membantu panjang umur-nya Code Margonda mari mampir kesini.

Harga Teman

Hitungan Dibalik Harga Teman

Para insan yang bergerak dalam jasa kreatif client based, sering berhadapan dengan teman atau kenalan yang menawarkan pengerjaan desain ataupun development namun dengan meminta ‘harga teman’. Saat sedang mempertimbangkan harga teman ini kita jadi dilema. Kalau projeknya diambil rasanya imbalannya kurang greget, kalo nolak rasanya enggak enak. Para freelancer dan pemilik bisnis kreatif kecil sering berada dalam situasi kegalauan kreatif seperti ini.

Sebenernya perkara harga teman ini bisa dikira-kira, selama kita tau komponen biayanya. Dua hal yang paling mempengaruhi penghitungan harga teman adalah Customer Acquisition Cost dan Customer Retention Cost.

Customer Acquisition Cost

Customer Acquisition Cost adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan satu kustomer atau klien. Dulu, saat saya masih bergelut di bidang jasa desain dan copywriting, untuk membuat suatu klien baru memutuskan deal mau memakai jasa saya, dibutuhkan 1-2 kali pertemuan darat untuk meyakinkan mereka. Satu hingga dua kali pertemuan itu tentu ada hitungan ongkos transportnya, workhour yang terpakai untuk membuat presentasi konsep, printing initial mock up, dsb. Belum lagi kalo ngobrolnya di kafe, bill traktiran saat PDKT ke calon klien ya tentu dimasukkan juga sebagai cost ini.

Nah, kalo teman kita tau-tau dateng nawarin projek, tentu biaya Customer Acquisition Cost ini jadi ga ada dong. Karena dia datang tidak diundang pulang tidak diantar.

Customer Retention Cost

Customer Retention Cost adalah biaya yang dikeluarkan agar satu kustomer atau klien tetap loyal menggunakan jasa atau produk kita. Emang penting ya Customer Retention Cost? Jangan salah, dikutip dari Forbes 5% biaya yang dikeluarkan untuk Customer Retention itu bisa mendatangkan tambahan 75% profit. 80% pendapatan suatu bisnis biasanya berasal dari 20% existing customer. Jadi kalo kita serius mengembangkan bisnis, Customer Retention Cost ini jadi hal yang penting.

Kayak apa bentuk Customer Retention Cost ini? Dwi Sapta setiap bulan sekali selalu mengajak account director atau account manager suatu brand untuk makan siang bareng. Mau ada projek atau ga ada projek, mereka yang pernah jadi kliennya rutin di-treatment seperti ini. Kalo bisnisnya masih kecil ya yang paling gampang setahun sekali kasih kiriman kartu lebaran, syukur-syukur bisa sekalian sama parselnya :D

Nah, kalo teman kita yang jadi klien, biaya relation maintenance ini bisa lebih ditekan. Karena di treatment ataupun tidak di treatment, kita tetap jadi top of mind dia (dengan catatan selama kualitas kerja yang kita berikan juga excellent ya, plus kita aktif nge tag doi di facebook :))).

Jadi Perlu Ga Kasih Harga Teman?

Enggak, kalo kita tidak memasukkan dua komponen biaya tersebut sebagai strategi pengembangan bisnis. Misalnya, kita hanya mempromosikan karya kita lewat facebook dan deviant art. Kita tidak pernah melakukan PDKT di darat terhadap calon klien, tidak pernah (dan tidak berencana) memberikan suatu treatment kepada klien-klien yang sudah pernah menggunakan jasa kita. Dengan ini maka permintan harga temen jadi kurang pas, lha wong klien-klien yang lain juga diperlakukan sama kok.

Enggak, kalo kita merencanakan memberikan treatment kepada sang teman menggunakan dua komponen biaya tersebut sama seperti klien-klien lainnya. Intinya mengutamakan pelayanan yang top markotop tidak memandang klien biasa taupun teman.

Kasih, kalo bisnis yang kita jalankan memang menggunakan dua komponen biaya tadi untuk klien normal dan menghapus dua biaya tersebut untuk sang teman. Dengan catatan sang teman memang tidak masalah diperlakukan tanpa treatment khusus seperti klien normal.

Itu gambaran tentang penghitungan harga teman. Mudah-mudahan jadi makin mantep menentukan penawaran untuk projek teman dan klien biasa. Jadi nanti jika lain kali ada teman yang meminta harga teman, harga saudara atau harga ikhwah, tau kan hitungannya? ;)

Candi Prambanan

Permodalan Industri Kreatif Yang Tidak Kreatif

Industri kreatif kian mengambil porsi yang signifikan dalam sektor perekonomian Indonesia. Tahun 2010, nilai ekspor industri kreatif telah mencapai 114,9 triliyun rupiah.  Bahkan pemerintah menargetkan agar sektor industri kreatif ini pada tahun 2011 hingga 2015 bisa menyentuh 8% dari nilai PDB (Produk Domestik Bruto).

Sayangnya, target dan pencapaian ini belum didukung oleh sektor perbankan, tempat dimana para pemilik bisnis kreatif bisa mendapatkan modal dana segar. Belum keluarnya peraturan perbankan terkait industri kreatif menjadi kendala utama. Akibatnya bank menggunakan pendekatan konvensional, dimana pemilik bisnis harus menggunakan jaminan aset fisik untuk bisa mendapatkan pinjaman.

Padahal, di industri kreatif, aset utamanya adalah ide. Laskar Pelangi adalah sebuah contoh produk dari industri kreatif subsektor penerbitan & percetakan. Setelah sukses dengan novelnya, Laskar Pelangi menjadi film, drama musikal dan yang terkahir serial televisi. Uang triyunan rupiah yang dihasilkan dari semua produk tersebut sumbernya satu: ide cerita Laskar Pelangi yang lahir dari pemikiran Andrea Hirata. Kreativitas adalah aset inti dari sebuah bisnis kreatif. Ini yang membuat industri kreatif perlu dibedakan model pembiayaannya dengan industri lain.

Terganjalnya permodalan oleh perbankan bisa membuat laju pertumbuhan industri kreatif tidak optimal. Banyak pemilik bisnis kreatif yang jadinya hanya mengerjakan pesanan karena model bisnis seperti ini bisa memberikan modal di depan, dan dalam beberapa kasus nama pembuatnya tidak disebutkan. Padahal mereka amat berpotensi untuk memiliki produk yang dibangun dengan ide mereka sendiri. Menjadi kreator berarti ia bisa memasukkan nilai-nilai budaya lokal untuk produknya ketimbang harus mengerjakan produk-produk pesanan negara luar. Menjadi kreator artinya memiliki posisi tawar yang lebih tinggi untuk produk kreatif yang ia hasilkan.

Di negara-negara lain, industri kreatif sudah mulai di dukung pembiayaan permodalannya oleh negara. Di Kanada, the Arts Board and the Ministry of Tourism, Parks, Culture and Sport menggulirkan dana pinjaman 1,15 milyar dollar Canada untuk industri kreatifnya. Terpampang jelas juga paduannya dan cara prosedur peminjamannya, semuanya dalam format PDF yang bisa diunduh, mudah dipahami dan siap print. Jerman juga sudah mendukung sektor industri kreatifnya melalui perbankan. Bahkan  Negara tetangga Malaysia juga sudah duluan dalam mendukung industri kreatifnya lewat sektor perbankan.

Ada wacana, sistem pembiayaan bank syariah bisa menjadi alternatif bagi industri ini. Akad transaksi jual beli bisa jadi solusi bagi bisnis kreatif yang butuh modal untuk pengadaan alat produksi. Jika pada bank konvensional yang jadi objek adalah uangnya, maka pada bank syariah yang jadi objek adalah barangnya. Jadi bank syariah membeli barang yang dibutuhkan, lalu menjualnya kepada pemilik bisnis, dan sang pemilik bisnis akan mencicil kepada bank syariah sesuai besaran yang disepakati di awal.

Solusi yang kedua lewat venture capital atau angel investor. Gencarnya penetrasi broadband, tingginya pengguna mobile phone, dan munculnya startup-startup teknologi di Indonesia membuat negeri ini jadi perhatian venture capital asing. Tahun 2011 kemarin, banyak venture capital baik lokal maupun asing yang sudah mulai bergerak di Indonesia. Hanya saja para venture capital ini cenderung fokus berinvestasi pada bisnis yang berbasis teknologi informasi. Padahal  industri kreatif memiliki 12 subsektor lain diluar sektor berbasis teknologi informasi.

Solusi yang ketiga, crowdfunding. Crowdfunding adalah suatu bentuk pengumpulan dana secara kolektif yang bertujuan untuk mendukung suatu usaha atau kegiatan tertentu. Crowdfunding ini dipandang sebagai solusi yang paling memungkinkan untuk mewujudkan projek-projek kreatif. Bahkan ada situs crowdfunding yang mengumpulkan dana khusus untuk mendukung projek film, musik, buku dan game. Ada beberapa startup crowdfunding online Indonesia yang dikabarkan akan muncul tahun ini.

Bangsa Indonesia secara historis memang sudah kreatif. Leluhur kita sudah membangun candi-candi yang luar biasa megah dan indah di abad ke-8. Setiap suku di Indonesia memiliki kebudayaan pola kain dan bentuk baju tersendiri. Setiap daerah memiliki lagu dan alat musiknya sendiri. Belum lagi cerita-cerita rakyat yang melegenda dan telah dijadikan buku, film serta pementasan drama. Bukankah semua itu termasuk rekam jejak kreativitas manusia-manusia bangsa ini dalam subsektor arsitektur, fashion, musik dan creative writing?

Sudah seharusnya Indonesia bisa menjadikan industri kreatif sebagai salah satu sektor signifikan penggerak ekonominya. Namun itu juga butuh dukungan dalam kemudahan modal. Pemerintah harus secepatnya menyelesaikan peraturan perbankan konvensional terkait industri ini. Perbankan syariah juga sebaiknya mulai membuat paket produk pembiayaan yang related dengan bisnis kreatif. Juga diharapkan munculnya venture capital yang mau fokus untuk berinvestasi pada usaha berbasis kreativitas. Dan startup crowdfunding yang nanti muncul juga diharapkan bisa jadi katalis projek-projek kreatif. Dengan terobosan tersebut, maka para pemilik kreativitas bisa punya produk kreasi sendiri, mandiri dan tidak lagi tergantung pesanan negara lain.

Image credit: Gunawan SM