Cool Alarm Clock

Tips Tidur 2-3 Jam Sehari dari Pak Budi Isman

Pak Budi Satria Isman adalah seorang profesional yang telah melanglang buana di beberapa perusahaan multinasional dan menempati posisi-posisi kunci didalamnya. Beliau berkarir di Mobil Oil, Shell Indonesia, menjadi vice president di Coca-Cola Indonesia, dan menjadi CEO di Sari Husada. Sekarang beliau menempati posisi Board of Directors di Avrist Assurance dan menjadi Presdir di perusahaannya sendiri, PT. Mikro Investindo Utama.

Yang saya coba teladani dari beliau adalah keteguhan dalam mewujudkan dream-nya. Jika kita sudah menetapkan target, maka kerahkan segala upaya untuk mencapai target itu, sekalipun harus meninggalkan zona nyaman.

Reach Your Dream

Saat muda, beliau memiliki target bahwa pada usia 45 tahun harus sudah menjadi orang nomer satu di suatu perusahaan multinasional. Perjalanan karirnya di Coca Cola Indonesia akhirnya membawanya menempati posisi Vice President pada tahun 2003, posisi sebagai orang nomer dua di perusahaan tersebut. Saat itu ia sudah berumur 41 tahun. Tahun 2005 beliau akhirnya memutuskan hengkang karena merasa terlalu lama jika harus menunggu jadi orang nomer satu di perusahaan ini, yang ia perkirakan 5 hingga 6 tahun lagi, yang artinya sudah melewati target umurnya.

Ia kemudian menjadi CEO di Sari Husada, perusahaan yang sudah go public dan sebagian besar sahamnya dimiliki oleh perusahaan dari Belanda. Di umur 43 tahun, beliau sudah berhasil mencapai targetnya. Dengan berani, beliau meninggalkan segala kenyamanan yang ia dapatkan dari grup Coca-Cola untuk pindah ke Sari Husada. Keputusan yang mengherankan bagi banyak orang, termasuk keluarganya. Namun beliau berhasil menjelaskan prinsip hidupnya kepada keluarganya dan memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Beliau memimpin di Sari Husada hingga 2009 dan berhasil membawa perubahan-perubahan yang berani, salah satunya adalah membeli kembali saham-saham minoritas hingga senilai 1 triliun rupiah dengan tujuan agar kebijakan perusahaan bisa diambil dengan cepat dan tidak terganggu dengan sentimen publik. Di awal kepemimpinannya, Sari Husada memberi target bahwa pertumbuhan profit harus mencapai double digit dalam lima tahun, dan beliau berhasil mencapai target tersebut kurang dari lima tahun.

Drop Out Empat Kali

Dibalik pencapaiannya tersebut, ternyata beliau punya cerita latar belakang pendidikan yang menggelitik. Saat remaja, beliau tergolong orang yang cukup berbakat, sehingga pada usia 16 tahun sudah bisa mengenyam bangku kuliah. Namun semua kampus yang ia masuki tidak berakhir manis. Beliau drop out empat kali, dikeluarkan dari perkuliahan di beberapa perguruan tinggi di Indonesia mulai dari Institut Teknologi Bandung, Universitas Andalas, Akademi Bahasa, hingga Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Menurut cerita beliau penyebab drop out-nya adalah karena merasa bosan dengan sistem pendidikan kuliah, sehingga ia memiliki attitude yang dianggap meremehkan institusi pendidikan yang ia masuki. Ini yang membuat para dosen memberi nilai jelek dan tidak meluluskan beliau, walaupun mungkin sebenarnya beliau menguasai mata kuliah yang diajarkan sang dosen.

Akhirnya ia memilih melanjutkan berkuliah di negeri Paman Sam. Disini ia termotivasi untuk mengejar ketertinggalannya. Disini ia mulai mengembangkan  disiplin, kerja keras dan kebiasaan untuk tidur hanya 2 hingga 3 jam sehari. Walhasil, gelar Bachelor of Science in Business Administration dari The American University dan Master of Arts dari The George Washington University berhasil disabet dalam kurun waktu tiga tahun (1985-1988).

Beliau sadar bahwa jika berkuliah dan bekerja dengan ritme yang biasa-biasa saja maka ia jelas sudah kalah start dengan mereka yang menjalani perkuliahan dengan ‘normal’. Oleh karenanya perlu ada pengorbanan khusus untuk bisa mengejar ketertinggalan ini, beliau memilih bekerja keras dan mengurangi jam tidurnya. Kebiasaan ini ia bawa terus saat berkarir dan kembali ke Indonesia. Tidak heran jika akhirnya beliau bisa mencapai targetnya menjadi orang nomor satu di perusahaan multinasional pada usia 43 tahun.

Tips Budi Isman Tidur 2-3 Jam Sehari

Saya berkesempatan bertemu Pak Budi Isman dua kali. Pertama saat di GEPI Ciputra dan kedua saat beliau mengisi talkshow di Universitas Trilogi. Saya kemudian bertanya tentang tips beliau bisa mengurangi waktu tidur namun tetap energik di siang hari. Ini jawaban dari beliau:

Kalau soal tidur itu masalah habit bagi saya, walaupun banyak dokter dan teman-teman tidak sependapat karena bagi mereka tidur harus 6-8 jam sehari. Nyatanya orang Jepang juga tidurnya tidak normal, mungkin sekitar 3-5 jam perhari dan nyatanya mereka bisa sangat produktif.

Memang kalau tidak biasa akan sulit. Saya sudah membangun kebiasaan ini dari tahun 1985 dan sampai sekarang masih bisa bertahan dan cukup produktif. Saya tidak konsumsi makanan atau minuman khusus ataupun vitamin. Olah raga saya juga jarang, dulu masih main golf namun dua tahun belakangan ini malah ngga main sama sekali.

Mungkin cara yang terbaik adalah menyesuaikan dengan kodisi badan kita dan mulai pelan-pelan bangun kebiasaan yang ingin kita miliki.

  • Perlahan mulai kurangi tidurnya. Bulan pertama misalnya dikurangi 1 jam, bulan kedua 2 jam dan bulan ke-empat kurangi 3 jamdan seterusnya.
  • Pakai alarm clock yang bunyinya keras untuk tahun pertama dan bangun tepat di jam yang sama setiap hari sampai menjadi kebiasaan
  • Saya makan tidak pernah banyak karena akan bikin ngantuk, namun frekuensi makan saya bisa 5 kali sehari. Light breakfast saat pagi, ngemil saat jam 10.00, lunch saat jam 12.00, ngemil saat jam 4.00 sore, makan malam saat jam 7.00 malam dan late supper sekitar jam 11.00 malam.
  • Saya tidur jam 02.00 dini hari dan bangun paling lambat jam 04.30 pagi
  • Malam di rumah dengan keluarga dan urusan keluarga sampai jam 11.00 malam. Jika keluarga dan istri sudah tidur maka saya kerja lagi atau baca buku untuk tambah ilmu dan pengetahuan.
  • Jika memungkinkan, cari waktu untuk olahraga ringan yang rutin.
  • Time management sangat penting. Saya sangat ketat soal scheduling waktu, pekerjaan, meeting, dan segala macam kerja
  • Biasanya saya pakai Outlook untuk calendar dan scheduling yang saya link-kan dengan Google calendar maupun HP saya

Itu pengalaman saya yang bisa saya share. Terimakasih.

» Photo Credits: Beech Brick Click Clock