Harga Teman

Hitungan Dibalik Harga Teman

Para insan yang bergerak dalam jasa kreatif client based, sering berhadapan dengan teman atau kenalan yang menawarkan pengerjaan desain ataupun development namun dengan meminta ‘harga teman’. Saat sedang mempertimbangkan harga teman ini kita jadi dilema. Kalau projeknya diambil rasanya imbalannya kurang greget, kalo nolak rasanya enggak enak. Para freelancer dan pemilik bisnis kreatif kecil sering berada dalam situasi kegalauan kreatif seperti ini.

Sebenernya perkara harga teman ini bisa dikira-kira, selama kita tau komponen biayanya. Dua hal yang paling mempengaruhi penghitungan harga teman adalah Customer Acquisition Cost dan Customer Retention Cost.

Customer Acquisition Cost

Customer Acquisition Cost adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan satu kustomer atau klien. Dulu, saat saya masih bergelut di bidang jasa desain dan copywriting, untuk membuat suatu klien baru memutuskan deal mau memakai jasa saya, dibutuhkan 1-2 kali pertemuan darat untuk meyakinkan mereka. Satu hingga dua kali pertemuan itu tentu ada hitungan ongkos transportnya, workhour yang terpakai untuk membuat presentasi konsep, printing initial mock up, dsb. Belum lagi kalo ngobrolnya di kafe, bill traktiran saat PDKT ke calon klien ya tentu dimasukkan juga sebagai cost ini.

Nah, kalo teman kita tau-tau dateng nawarin projek, tentu biaya Customer Acquisition Cost ini jadi ga ada dong. Karena dia datang tidak diundang pulang tidak diantar.

Customer Retention Cost

Customer Retention Cost adalah biaya yang dikeluarkan agar satu kustomer atau klien tetap loyal menggunakan jasa atau produk kita. Emang penting ya Customer Retention Cost? Jangan salah, dikutip dari Forbes 5% biaya yang dikeluarkan untuk Customer Retention itu bisa mendatangkan tambahan 75% profit. 80% pendapatan suatu bisnis biasanya berasal dari 20% existing customer. Jadi kalo kita serius mengembangkan bisnis, Customer Retention Cost ini jadi hal yang penting.

Kayak apa bentuk Customer Retention Cost ini? Dwi Sapta setiap bulan sekali selalu mengajak account director atau account manager suatu brand untuk makan siang bareng. Mau ada projek atau ga ada projek, mereka yang pernah jadi kliennya rutin di-treatment seperti ini. Kalo bisnisnya masih kecil ya yang paling gampang setahun sekali kasih kiriman kartu lebaran, syukur-syukur bisa sekalian sama parselnya :D

Nah, kalo teman kita yang jadi klien, biaya relation maintenance ini bisa lebih ditekan. Karena di treatment ataupun tidak di treatment, kita tetap jadi top of mind dia (dengan catatan selama kualitas kerja yang kita berikan juga excellent ya, plus kita aktif nge tag doi di facebook :))).

Jadi Perlu Ga Kasih Harga Teman?

Enggak, kalo kita tidak memasukkan dua komponen biaya tersebut sebagai strategi pengembangan bisnis. Misalnya, kita hanya mempromosikan karya kita lewat facebook dan deviant art. Kita tidak pernah melakukan PDKT di darat terhadap calon klien, tidak pernah (dan tidak berencana) memberikan suatu treatment kepada klien-klien yang sudah pernah menggunakan jasa kita. Dengan ini maka permintan harga temen jadi kurang pas, lha wong klien-klien yang lain juga diperlakukan sama kok.

Enggak, kalo kita merencanakan memberikan treatment kepada sang teman menggunakan dua komponen biaya tersebut sama seperti klien-klien lainnya. Intinya mengutamakan pelayanan yang top markotop tidak memandang klien biasa taupun teman.

Kasih, kalo bisnis yang kita jalankan memang menggunakan dua komponen biaya tadi untuk klien normal dan menghapus dua biaya tersebut untuk sang teman. Dengan catatan sang teman memang tidak masalah diperlakukan tanpa treatment khusus seperti klien normal.

Itu gambaran tentang penghitungan harga teman. Mudah-mudahan jadi makin mantep menentukan penawaran untuk projek teman dan klien biasa. Jadi nanti jika lain kali ada teman yang meminta harga teman, harga saudara atau harga ikhwah, tau kan hitungannya? ;)